Sabtu, Oktober 11, 2008

BELUM JADI

Siang ini..Matahari begitu terik, dan awan yang bergelantungan hari kemarin beranjak berarak ke langit utara. Matahari siang ini makin membakar kulit legamku, kulit terindah yang kuwarisi dari orang-orang ujung pulau.Ujung pulau yang lupa terpetakan dalam bola Globe.Ujung pulau yang hari ini lamat-lamat aku kangeni karena telpon yang teramat mengganggu di Ruang Poli Bedah Rumah Sakit ini. Ah…Ternyata telpon dari saudaraku, di ujung pulau itu. Kakakku yang lahir lebih awal kedunia ini lima tahun tiga bulan dariku..Tumben dia menelpon ku siang ini. Ah…..aku kangen sekali sama suaranya, Aroma tubuhnya yang tiga minggu kemarin berkelahi denganku.Kelahian anak-anak yang beranjak dewasa, Perkelahian yang aneh, unik dan ganjil.Karena seharusnya aku hantamkan saja Bogem mentah itu ke mukanya. Tapi aku diam dan tak beranjak..Begitu liar, childish. Sekelompok anak-anak antelope pegunungan Andes yang hampir punah..Bersitegang hanya karena motor. Motor bermerk Jupiter MX yang berwarna merah marun itu. Terlalu klasik dan childish. Bocah-bocah ujung pulau yang ganjil, aneh..

Jarum jam diam, membeku dan tak beranjak. Dunia seolah terdiam.Pukul 12.00 gak lebih atau kurang semilin second pun. Pukul 12.00.Dihari Sabtu. Panas, terik dan semuanya membakar. Legam dan legam lagi, pikirku membatin.

Panas ini semakin menjadi, karena disamping kamarku sepasang muda-mudi bertengkar, tampak laki-laki itu cemburu berat. Dia kompulsif, Psikopat rupanya tebakku. Tahukan Psikopat itu??itu loh…orang-orang aneh…

Si lelaki itu bertelanjang dada, dengan Jeans Calvin Klein yang aku tebak baru tiga hari kemarin dia beli dari pasar Loak di Karang Sukun. Pasar Loak teramai yang berada di Ujung Sungai di tengah kota. Kota Mataram itu. Kota yang sekelilingnya Mesjid. Tempat ibadah lima kali sehari orang-orang sepertiku. Orang muslim itu.

Tapi, mesjid-mesjid itu makin lebar,meski azan-azan terindah dengan lantunan tajwid bernada Shaba,Sikka, Nahwa mengalun. Mesjid yang lapang, tanpa manusia-manusia yang makin indah dan bertuliskan mozaik-mozaik berfragmen huruf aneh yang di tulis berarah terbalik dengan aksara Negeriku. Indonesia. Aksara Latin itu. Kaligrafi-kaligrafi itu tertata indah di ujung tembok dan langit-langitnya. karigrafi terindah yang aku temui ada disana. Entah bergaya Turki, Afghan, ataukah Parsi. Aku tidak peduli dan aku sama sekali tidak mengerti.

Lelaki itu makin menjadi. Dia merebut Hp wanita itu, ketika tiba-tiba benda persegi panjang itu berdering-dering, meraung-raung aneh tanpa arti..

Kriiiing...Kringgg..Kringg...

Tapi wanita itu tidak melepaskannya. Dengan sekuat tenaga dia memegang hp itu. Napasnya terengah-engah. Dan aku lihat mukanya memerah. Tampak otot-otot di sekitar Lehernya bersitegang. Kekar, berbenjol-benjol seperti iguana. Otot Sternokleidomastoideus itu. Otot yang itu. Aku yakin sekali.

Wanita itu makin menjadi..Dia membaca pesan singkat itu dengan nada mesra...Aku begitu mendengarnya, suaranya makin keras, suara perayu. Suara wanita-wanita.. Suara itu, suara yang sayup aku dengar seperti orang beradegan ranjang. Suara dewasa..Wanita-wanita dimabuk kepayang..

Honey??lagi ngapain??dah ma’am belum??Miss you babe!!

Dia makin menjadi..dan makin mendesahkan nada-nada dan vibrasi rongga dadanya. Sementara si lelaki muda itu makin marah. Muka yang makin merah padam. Dia cemburu..teramat cemburu, seolah kata-kata itu tercetak keras di jidat putihnya yang lebar..

Mata nya memerah, nanar. Dan napasnya kembang-kempis. Aku takut dia terkena apneu..Tahu kan Apneu??Ah...aku rasa, bayi-bayi yang lahir di dukun-dukun itu mengerti sekali. Teramat menjiwai hingga tidak sempat mengucap selamat malam.

Cerita semakin seru, menarik. Seperti adegan film-film Bollywood. Ada Shahrurk Khan, Ada Kajol dan Rani Mukerjee di sana. Sahruhk Khan..Siapa yang tidak kenal bintang Film India itu?? Ganteng, mancung, Romantis, Jantan. Itu kata-kata yang mewakili karakternya. Karakter lelaki yang di gilai wanita-wanita. Karakter ragawi yang mampu membawa wanita berbikini dan entah rela melakukan hal-hal aneh. Udik, hal-hal yang bikin manusia mirip saudara tua mereka versi Darwin.

Benda persegi empat itu menjerit lagi. Meraung-raung. Seperti lolongan singa...Singa yang kelaparan di ujung Sahara. Ujung bumi yang paling terik. Terik sekali. Karenanya hanya orang-orang tangguh suku Samai yang bertahan hidup. Suku aneh, yang aku baru tahu suku itu ada di muka bumi. Dari novel best seller tahun ini. Novel indah yang sanggup mengurai air mataku ketika bait-bait pertama aku membacanya. Novel terinspiratif yang aku dan salah seorang pewaris darah yang sama denganku hanya mampu berucap sepatah kata. Aku ingin jadi si Ikal itu.

Novel yang di tulis dengan cinta dari seorang sastrawan besar, naga yang terlalu lama tidur. Seseorang yang sama landskape dan kontur jiwanya. Ujung pulau-pulau. Pulau asing, aneh dan hampir tergerus dari bola bumi. Kecuali hanya titik-titik tidak penting. Terlupakan.

Serta merta tangan gadis itu di tariknya keras, kuat dan hembusan anginpun berhenti sejenak. Nadi-nadi itu tercetak kuat, berteriak dan sayup kudengar desahan aliran-aliran berkelok bermil-mil itu berteriak keras dan kencang. Sir, lepaskan aku.

Dia menggiring wanita itu di ujung tembok. Dipeluknya erat-erat lingkar pinggulnya,. Dia berteriak kencang. Kompulsif.

Kau pelacur sialan. Tega kau hianati aku. Mungkin itu kata-kata yang berada di rongga kerongkongannya. Rongga yang memuntahkan cairan-cairan pekat, hitam kebirua-biruan ketika aku mabuk. Mabuk Bis kota..

Wanita itu berusaha melepaskannya, tapi pelukan itu terlalu kencang.. Kuat dan ganas.Dengan tenaga terakhir, tenaga yang hanya dimiliki oleh petani-petani bawang Merah ujung pulauku, tenaga yang semakin hilang para pelaut selat Sape. Karena sudah semakin capai mencari ikan-ikan kerapu, atupun teri yang makin langka dan sedikit jumlahnya. Belum lagi harga minyak yang makin tinggi. Melambung dan semakin melambung. Dunia yang penuh ironi. Dunia para orang-orang miskin. Yang tak pernah sanggup mereka-reka Hamburger itu apa??atau fried Chicken itu apa??Apalagi Tequila itu. Minuman yang paling aneh.

Akhirnya genggaman itu terlepas.

Wanita itu berkata sekonyong-konyang..Stupid, lepasin. Sakit yang...Sakit neh.Dia mengelus-elus jemarinya. Jemari-jemari itu memerah.

Si lelaki nampaknya timbul ibanya. Serta merta aura anak kecil beranjak dan memenuhi langit. Langit kamar no 15.Kos Rinjani.. kamar penuh ironi.

Dia beranjak dan sepertinya ingin meminta maaf atas sikapnya, dan itu lembut sekali. Seperti keju Spanyol..ah...mungkin keju Negeri Ratu Beactrice, negeri Kincir itu. Yang aku tahu orang-orang tak bermartabat itu dulu menjajah moyang-moyang kami. Memaksa mereka menjual, tebu, daging, rempah, pala, ikan-ikan beranak pinang, kelapa-kelapa, tanah-tanah, bahkan perawan-perawan pada mereka. Tidak salah lagi. Negeri van Basten. Holland itu.

Kalau begini, kita Breakk...PUTUS saja...bagaimana??dia mantap sekali mengucapkan kata-kata itu..Intonasi suaranya begitu tajam, kuat, keras, dan pedang Guilltone mengarah tajam ke jantung lelaki itu. Tinggal seinci, ah. Bukan seinci. Terlalu jauh. Semili meter. Dekat, dekat sekali.

Rambutnya yang ia potong cepak, dan mencontek gaya Bunga Citra Lestari itu. Terkibas kesisi kanan dan kiri, semilir angin semakin membuat rambut itu indah, elegan,anggun, wanita sekali.

Tetapi sebelumnya sudah tahu kan gaya rambut itu??Itu loh..yang di gunting karena salah satu sisi guntingnya lupa di minyaki. Rambut yang aneh. Panjang, pendek sebelah. Kalau rambut seperti ini diliat oleh nenekku. Pasti dia akan marah. Kesal, dan berteriak kencang-kencang, Jugun Ianfu. Singkat dan terlalu padat bukan. Tanpa tedeng aling-aling. Sesingkat kata-katanya waktu dia menasehatiku. Jadilah Lelaki BIMA.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

KASI KOMENT yah....